LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN PERKEMBANGAN ANAK
MAKALAH KELOMPOK
LANDASAN PSIKOLOGIS
PENDIDIKAN
“ PERKEMBANGAN ANAK”
OLEH:
NAMA KELOMPOK 5 : DESI
MARANATA (1888203022)
IFFA LUXVIYA (1888203017)
PUTRI WAHYUNI (1888203019)
KELAS :
1.1
DOSEN PENGAJAR : Mr.
MUSTAKIM JM.,M.Pd
PENDIDIKAN BAHASA
INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG
KUNING
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami ucapkan kehadirat Allah SWT. atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Di dalam
makalah ini, kami telah berusaha menguraikan sebaik mungkin semua hal yang
berkaitan dengan “ FILOSOFI DAN LANDASAN PENDIDIKAN; PERKEMBANGAN ANAK” Besar
harapan kami agar pembaca mampu memahami lebih jauh tentang berbagai hal yang
berkaitan dengan hal tersebut.
Akan tetapi,
kami menyadari bahwa di dalam makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan
yang tentunya mengakibatkan makalah ini masih dikatakan jauh dari sempurna.
Maka dari itu, kami harapkan pembaca dapat memaklumi serta memberi kritik dan
saran yang membangun demi terwujudnya makalah yang lebih baik di masa yang akan
datang.
Pekanbaru,
08 Oktober 2018
Penulis
i
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.................................................................................................... i
Daftar isi................................................................................................................ ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang.............................................................................................. 1
1.2
Rumusan masalah......................................................................................... 2
1.3
Tujuan
penulisan........................................................................................... 2
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Psikologi Perkembangan .......................................................... 3
2.2 Hakikat
Psikologi Perkembangan................................................................ 3
2.3 Faktor-Faktor
Perkembangan Anak.................................................................. 6
2.4 Tahapan Perkembangan Anak............................................................................ 7
2.5 Karakteristik
Perkembangan Anak...................................................................... 8
2.6 Dampak
Internet..................................................................................................... 22
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
................................................................................................ 24
3.2
Saran.......................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 26
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Psikologi berkembang
diawali dalam bidang filsafat yang dikenal sebagai induk dari berbagai ilmu. Seorang ahli
psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa anak mengalami banyak
perubahan baik fisik dan mental, dengan berbagai karakteristik.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini
perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran
emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan anak optimal
bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai
tahap perkembangan.
Psikologi perkembangan merupakan suatu disiplin ilmu
yang mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia baik dari
lahir maupun sudah lanjut usia. Inilah suatu signifikan dari perkembangan
rohani manusia itu sendiri yang dialami sejak ia lahir sampai menjadi dewasa.
Dalam proses perkembangan rohani itu terjadi perubahan yang terus-menerus.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian
khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi
kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan
pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir
dan menghampiri mereka. Dan kelak, orangtua juga yang akan mengalami penyesalan
yang mendalam.
Dampak negatif dari perkembangan anak yang kurang
perhatian dari orang tuanya adalah anak menjadi nakal dan susah diatur. Dan
dampak lain yang ditimbulkan adalah perusakan moral yang dialami anak yang
kemungkinan diakibatkan dari salah bergaul dan berteman. Dan akhirnya,
anak-anak inilah yang membawa dampak buruk bagi teman-temannya.
Salah satu perusakan atau penurunan moral yang
dialami anak-anak pada saat ini adalah dengan melihat video yang seharusnya
belum pantas ditonton pada usianya. Perilaku negatif ini juga disebabkan dari
perkembangan teknologi khususnya internet. Yang akibatnya, akan menurunkan prestasi
belajar anak disekolah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
- Apakah yang dimaksud dengan psikologi perkembangan anak?
- Bagaimanakah hakikat psikologi perkembangan anak?
- Apa saja faktor-faktor perkembangan anak?
- Apa saja tahap-tahap perkembangan anak?
- Bagaimana karakteristik fase perkembangan?
- Apakah yang menjadikan anak-anak sekarang senang dengan internet?
1.3
TUJUAN PEMBUATAN
- Untuk mengetahui apa itu psikologi perkembangan.
- Untuk mengetahui apa saja hakikat psikologi perkembangan.
- Untuk mengetahui faktor-faktor perkembangan anak..
- Untuk mengetahui apa saja tahap perkembangan anak.
- Untuk mengetahui karakteristik fase perkembangan anak.
- Untuk mengetahui hal yang disenangi anak dari internet.
-
BAB IIPEMBAHASAN2.1 Pengertian Psikologi PerkembanganBerdasarkan beberapa pendapat para ahli, psikologi perkembangan itu dapat diartikan sebagai berikut:· Psikologi perkembangan merupakan “cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku” (J.P. Chaplin, 1979).· Psikologi perkembangan merupakan “cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati”(Rosta Vasta, dkk., 1992).Jadi, Kedua pendapat di atas menunjukan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkah.2.2. Hakikat Psikologi PerkembanganSebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratotiumnya tahun 1879 yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani Kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Benua AmerikaSebelum mempelajari psikologi perkembangan, perhatian berawal pada pemahaman yang mendalam pada anak-anak. Dasar pemikiran merujuk bahwa penelitian dan buku-buku tentang anak sedikit, pemahaman terhadap seluk beluk kehidupan anak sangat bergantung pada keyakinan dan tradisonal yang bersumber pada spekulasi para filsuf dan teolog tentang anak dan latar belakang perkembangannya, serta pengaruh keturunan dan lingkungan terhadap kejiwaan anak. Oleh karena itu, salah seorang filosof Plato mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar genetis. Potensi individu dikatakannya telah ditentukan oleh faktor keturunan. Artinya, sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat atau benih-benuh kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengasuhan dan pendidikan.Walaupun Plato tidak dapat memberikan bukti langsung dalam menunjang spekulasinya, namun tampak jelas bahwa menurunnya anak merupakan miniature orang dewasa. Anggapan ini tampak bahwa semua keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang tampil di kemudian hari setelah dewasa merupakan bawaan lahir (innate ideas).Proses-proses yang mendasari cara berfikir dan berbuat anak dianggap sama seperti orang dewasa. Apabila anak berpikir dan melakukan perbuatan yang menyimpang dari standar orang dewasa, anak dianggap bodoh dan apabila anak-anak melanggar norma-norma sosial dan moral, dianggap berbuat jahat dan harus diberikan hukuman seperti orang dewasa.Pada abad ke-17, seorang filosof Inggris John Locke (1632-1704), menyatakan bahwa pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan anak, dia tidak mengakui adanya kemampuan bawaan (innate knowledge). Menurut Locke, isi kejiwaan anak ketika dilahirkan diibaratkan secarik kertas kosong, dimana corak dan bentuk kertas ini sangat ditentukan bagaimana cara kertas ini ditulis.Rousseau dalam bukunya Emile ou L’education menolak pandangan bahwa anak memiliki sifat bawaan yang buruk (innate bad), dia menegaskan bahwa “All thinks are good as they come out of the hand of their creator, but everything degenates in the hand of man” (segala-galanya adalah baik sebagaimana keluar dari tangan sang pencipta, tetapi segala-galanya memburuk dalam tangan manusia). Pandangan ini dikenal dengan Noble Savage, ungkapan ini mengandung arti bahwa anak ketika lahir telah membawa segi-segi moral (hal-hal yang baik dan buruk, benar dan salah yang dapat berkembang secara alami dengan baik), jika kemudian terdapat penyimpangan dan keburukan hal ini dikarenakan pengaruh lingkungan dan pendidikan.Pandangan Plato, Locke, Rousseau pada dasarnya bersifat spekulatif, walaupun pada abad ke-18 telah ada penelitian-penelitian tentang anak seperti Johan Heinrich Pestalozzi(1946-1827) ahli pendidikan dari Swiss, Dietrich Tiedemen tabib dari Jerman, namun penelitian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan anak-anak baru dimulai pada abad ke-19 yang dipelori oleh Charles Darwub dan Wilhem Wundt.Manusia sebagai objek ilmu pengetahuan, dan dibicarakannya dari sejak munculnya filsafat dan ilmu, hingga sekarang dan pada masa mendatang, tidak pernah kehabisan materi atau problematikanya. Telaahan tersebut akan selalu saja menarik bagi manusia yang mau mempelajarinya. Hal tersebut dapat terjadi karena kompleksitas manusia itu sendiri sebagai objek garapan ilmu pengetahuan.Termasuk jugak psikologi perkembangan yang memiliki objek garapnya adalah manusia, seringkali menemukan problematika yang sangat menarik, malah terkadang cenderung terasa berat untuk dipecahkan. Hal ini disebabkan karena kompleks dan uniknya manusia baik ditinjau dari sudut pandangan biologis maupun dari sudut pandangan psikologis. Tidak seorangpun didunia ini yang memiliki kesamaan total dengan manusia lainnya, terutama yang menyangkut urusan kondisi psikis atau jiwanya.Didalam mengamalkan serta menerapkan konsep-konsep psikologi perkembangan perlu disadari bahwa:a. Tidak ada seorang anak pun didunia yang memiliki kesamaan total dengan lainnya.b. Konsepsi-konsepsi didalam psikologi perkembangan bukanlah pembatasan mutlak atau pasti sifatnya.c. Konsepsi-konsepsi yang ada hanyalah lebih bersifat garis-garis besar atau pedoman umum yang berlaku bagi perkembangan kejiwaan anak pada umumnya.Dengan demikian, maka penggunaan teori-teori maupun batasan-batasan yang ada didalam psikologi perkembangan terasa tidak ada hambatan ataupun persoalan yang mengajukan. Konsepsi atau teori-teori tentang kejiwaan pada hakikatnya sangat banyak dan beragam sekali sifat serta pandangannya, sebagaimana banyaknya kemungkinan perkembangan jiwa seorang manusia yang kompleks dan unik.Akan tetapi kesemua konsepsi tersebut, untuk memudahkan mempelajari dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok pandangan disebut dengan istilah periodisasi perkembangan. Periodisasi perkembangan manusia, setiap individu yang normal akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini di mulai sejak terjadinya peristiwa konsepsi hingga kelahiran menjadi seorang bayi, kemudian tumbuh berkembang sebagai anak-anak, remaja, dewasa sampai mati. Dalam rentang waktu yang cukup panjang ini, guna kegiatan studi ilmiah yang bersifat sistematis, maka para ahli psikologi perkembangan membagi-bagi menjadi tahap-tahap yang dapat dikenali ciri-cirinya.2.3. Faktor-Faktor Perkembangan AnakDalam proses perkembangan anak dalam kenyataanya memang tidak dapat dihindari adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. Dalam proses perkembangan (psikisnya) dari seorang anak. Adapun berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak yaitu:a. Faktor-faktor sebelum lahir, yakni adanya gajala-gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak masih didalam kandungan.Contoh:Adanya gejala/ peristiwa kekurangan nutrisi (zat-zat makanan untuk tubuh) pada ibu atau janin, terkenan infeksi oleh bakteri, sifilis, TBC, diabetes mellitus, dan lain-lainnya.b. Faktor pada waktu lahir, yakni terjadinya suatu gangguan pada saat-saat anak dilahirkanya.Umpamanya:Terjadi defiect (kerusakan) susunan saraf pusat dikarenakan kelahirannya dengan bantuan alat sejenis tang (instrument birth), atau karena dinding rahim ibu terlalu sempit, maka terjadi tekanan yang kuat mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala, dan lain-lain.c. Faktor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi setelah anak lahir, terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak.Contoh:Adanya pengalaman anak yang traumatik (luka-luka) di kepala pada bagian luar atau dalam, karena benturan dengan benda keras, kekurangan gizi/vitamin, dan masih banyak contoh lainnya.d. Faktor psikologisYakni Adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat berfungsinya psikis, terutama yang menyangkut perkembangan inteligensi dan emosi anak yang berdampak pada proses pertumbuhan anak.Adapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi anak antara lain adalaah:a. Faktor herediter, yakni keturunan atau warisan sejak lahir dari kedua orangtuanya, neneknya, dan seterusnya yang biasanya diturunkan melalu kromoson.b. Faktor lingkungan, yakni segala sesuatu yang pada lingkungan dia berada atau bergaul. Segala sesuatu yang berada diluar diri anak dialam semesta ini baik yang berupa makhluk hidup atau makhluk yang mati.2.4 Tahapan perkembangan anakPerkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa:Ø Infancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)Ø Early childhood (usia 3-6 tahun)Ø Middle childhood (usia 6-11 tahun)Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:Ø Fisik (motorik)Ø EmosiØ KognitifØ Psikososial2.5 Karakteristik Fase Perkembangan Pada PraSekolah ( Usia Taman Kanak – Kanak ) dan Anak2.5.1 FASE PRA SEKOLAH1. PERKEMBANGAN FISIKPerkembangan fisik anak ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut. Kemampuan motorik tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.USIAKEMAMPUAN MOTORIK KASARKEMAMPUAN MOTORIK LEMBUT / HALUS3 – 4 tahun4 – 6 tahun1. Naik dan turun tangga2. Meloncat dengan dua kaki3. Melempar bola1. Meloncat2. Mengendarai sepeda anak3. Menangkap bola4. Bermain olahraga1. Menggunakan krayon2. Menggunakan benda / alat3. Meniru bentuk ( meniru gerakan orang lain )1. Menggunakan pensil2. Menggambar3. Memotong dengan gunting4. Menulis huruf cetak2. PERKEMBANGAN INTELEKTUALPERIODEDESKRIPSIPraoperasional1. Mampu berpikir dengan menggunakan simbol (symbolic function).2. Berpikirnya masih dibatasi oleh persepsinya. Mereka meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya terfokus kepada satu atribut / dimensi terhadap satu objek dalam waktu yang sama. cara berpikir mereka bersifat memusat ( centering ).3. Berpikirnya masih kaku tidak fleksibel. Cara berpikirnya berfokus kepada keadaan awal atau akhir dari suatu transformasi, bukan kepada transformasi itu sendiri yang mengantarai keadaan tersebut. Contohnya: Anak mungkin memahami bahwa dia lebih tua dari adiknya, tetapi mungkin tidak memahaminya, bahwa adiknya lebih muda dari dirinya.4. Anak sudah mulai mengerti dasar – dasar mengelompokkan sesuatu atau dasar satu dimensi, seperti atas kesamaan warna, bentuk dan ukuran.3. PERKEMBANGAN EMOSIONALBeberapa jenis emosi yang berkembang pada masa anak, yaitu sebagai berikut.a. Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. Rasa takut terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan:(1) mula – mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat kemungkinan bahaya yang terdapat dalam objek,(2) timbul rasa takut setelah mengenal adanya bahaya, dan(3) rasa takut bisa hilang kembali setelah mengetahui cara – cara menghindar dari bahaya.b. Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. kecemasan ini muncul mungkin dari situasi – situasi yang dikhayalkan, berdasarkan pengalaman yang diperoleh, baik perlakuan orangtua, buku – buku bacaan/komik, radio, atau film. Contoh perasaan cemas: anak berda di dalam kamar yang gelap, takut hantu dan sebagainya.c. Marah, merupakan perasaan tidak senang, atau benci baik terhadap orang lain, diri sendiri, atau objek tertentu, yang diwujudkan dalam bentuk verbal ( kata – kata kasar / makian / sumpah serapah ), atau nonverbal ( seperti mencubit, memukul, menampar, menendang, dan merusak ). Perasaan marah ini merupakan reaksi terhadap situasi frustasi yang dialaminya, yaitu perasaan kecewa atau perasaan tidak senang karena adanya hambatan terhadap pemenuhan keinginannya.Pada masa ini rasa marah sering terjadi karena:(1) banyak stimulus yang menimbulkan rasa marah, dan(2) banyak anak yang menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapatkan perhatian atau memuaskan keinginannya. Berbagai stimulus yang menimbulkan perasaan marah, di antaranya: rintangan atas kebutuhan jasmaniah, gangguan terhadap gerakan – gerakan anak yang ingin dilakukannya, rintangan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, rintangan terhadap keinginan – keinginannya, atau kejengkelan – kejengkelan yang menumpuk.Sumber perasaan marah bisa berasal dari diri sendiri (seperti, ketidakmampuan dan kelemahan/kecacatan diri), atau orang lain (orangtua, saudara, guru dan teman sebaya).d. Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih saying dari seseorang yang telah mencurahkan kasih saying kepadanya. Sumber yang menimbulkan rasa cemburu selalu bersifat situasi sosial, hubungan dengan orang lain. Seperti kakak cemburu kepada adiknya, karena dia telah merebut kasih saying dari orangtuanya.Perasaan cemburu ini diikuti dengan ketegangan, yang biasanya dapat diredakan dengan reaksi – reaksi:(1) agresif atau permusuhan terhadap saingan(2) regresif, yaitu perilaku kekanak – kanakan, seperti ngompol, atau mengisap jempol(3) sikap tidak peduli; dan(4) menjauhkan diri dari saingan.e. kegembiraan, kesenangan, kenikmatan, yaitu perasaan yang positif, nyaman, karena terpenuhi keinginannya. Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya terpenuhi kebutuhan jasmaniah ( makan dan minum ), keadaan jasmaniah yang sehat, diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan untuk bergerak ( bermain secara leluasa ), dan memiliki mainan yang disenanginya.f. Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian, atau perlindungan terhadap orang lain, hewan atau benda. Perasaan ini berkembang berdasarkan pengalamannya yang menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain (orangtua, saudara, dan teman), hewan (seperti, kucing dan burung), atau benda (seperti mainan). Kasih sayang anak kepada orangtua atau saudaranya, amat dipengaruhi oleh iklim emosional dalam keluarganya. Apabila orangtua dan saudaranya menaruh kasih sayang kepada anak, maka dia pun akan menaruh kasih sayang kepada mereka.g. Phobi, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya ( takut yang abnormal ), seperti takut ulat, takut kecoa, dan takut air. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orangtua yang suka menakut – nakuti anak, sebagai cara orangtua untuk menghukum, atau menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.h. Ingin tahu ( curiosity ), yaitu perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu atau objek – objek, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Perasaan ini ditandai dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan anak. Seperti anak bertanya tentang dari mana dia berasal, siapa Tuhan, dan di mana Tuhan berada. Masa bertanya ( masa haus nama ) ini dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncknya pada usia sekitar 6 tahun.4. PERKEMBANGAN BAHASAPerkembangan bahasa anak usia prasekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap ( sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya ) yaitu sebagai berikut.a. Masa ketiga ( 2,0 – 6,0 ) yang bercirikan :1) Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.2) Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan, misalnya burung pipit lebih kecil dari burung perkutut, anjing lebih besar dari kucing.3) Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana dan dari mana.4) Anak sudah banyak menggunakan kata – kata yang berawalan dan yang berakhiran.b. Masa keempat ( 2,6 – 6,0 ) yang bercirikan:1) Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.2) Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu sebab akibat melalui pertanyaan – pertanyaan: kapan, ke mana, mengapa, dan bagaimana.5. PERKEMBANGAN SOSIALTanda – tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah:a. Anak mulai mengetahui aturan – aturan, baik dilingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain.b. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.c. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.d. Anak mulai dapat bermain bersama anak – anak lain, atau teman sebaya (neer group).Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh sosiopsikologis keluarganya. Apabila di lingkungan keluarga tecipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu ( bekerja sama ) dalam menyelesaikan tugas – tugas keluarga atau anggota keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan, atau penyesuaian sosial dalam berhubungan dengan orang lain.Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ke Taman Kanak – Kanak. TK sebagai “ jembatan bergaul “ merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak untuk belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan menaati peraturan ( kedisiplinan ).6. PERKEMBANGAN BERMAINUsia anak pra sekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain, karena setiap waktunya diisi dengan kegiatan bermain. Yang dimaksud dengan kegiatan bermain disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. Terdapat beberapa macam permainan anak (Abu Ahmadi, 1977), yaitu sebagai berikut:a. Permainan Fungsi (permainan gerak),seperti meloncat-loncat, naik dan turun tangga, berlari-larian, bermain tali dan bermain bola.b. Permainan Fiksi ,seperti menjadikan kursi sebagai kuda, main sekolah-sekolahan, dagang-dagangan, perang-perangan dan masak-masakan.c. Permainan Reseptif atau Apresiatif,seperti mendengarkan cerita atau dongeng, melihat gambar dan melihat orang melukis.d. Permainan Membentuk (konstruksi),seperti membuat kue dari tanah liat, membuat gunung pasir, membuat kapal-kapalan dari kertas, membuat gerobak dari kulit jeruk, membentuk bangunan rumah-rumahan dai potongan-potongan kayu (plastik) dan membuat senjata dari pelepah daun pisang.e. Permainan Prestasi,seperti sepak bola, bola voli, tenis meja dan bola basket.Secara psikologis dan pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak, di antaranya :a. Anak memperoleh perasaan senang, puas, bangga atau berkatarsis (peredaan ketegangan),b. Anak dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab dan kooperatif (mau bekerja sama),c. Anak dapat mengembangkan daya fantasia tau kreativitas (terutama permainan fiksi dan konstruksi).d. Anak dapatmengenal aturan atau norma yang berlaku dalam kelompok serta belajar untuk menaatinya,e. Anak dapat memahami bahwa baik dirinya maupun orang lain, sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan,f. Anak dapat mengembangkan sikap sportif, tenggang rasa atau toleran terhadap orang lain.7. PERKEMBANGAN KEPRIBADIANAspek-aspek perkembangan kepribadian anak itu meliputi hal-hal berikut.a. Dependency & Self-ImageKonsep anak pra sekolah tentang dirinya sulit dipahami dan dianalisis, karena ketrampilan bahasanya belum jelas dan pandangannya terhadap orang lain masih egosentris. Mereka memiliki sistempandanga dan persepsi yang kompleks, tapi belum dapat menyatakan. Perkembangan sikap “Independensi” dan kepercayaan diri (self confidence) anak amat terkait dengan cara perlakuan orang tuanya. Sebagai orang tua, mereka memberikan perlindungan kepada anak dari sesuatu yang membahayakan dan dari kefrustasian. Gaya perlakuan orang tua kepada anak, ternyata sangat beragam, ada yang terlalu memanjakan, bersikap keras, penerimaan dan kasih sayang, dan acuh tak acuh (permisif). Masing-masing perlakukan itu cenderung memberikan dampak yang beragam bagi kepribadian anak.Anak yang biasa dihukum karena pelanggaran biasa dengan tidak memberikan kasih sayang atau perhatian kepadanya, maka anak tersebut cenderung lebih dependen daripada anak yang diikuti keinginannya dengan pengasuhan atau perhatian yang cukup dari orangtuanya dirumah, maka ia akan menuntut perhatian dari guru pada saat dia sudah masuk TK.Namun apabila perlindungan orang tua itu terlalu berlebihan (terlalu memanjakan) maka anak cenderung kurang bertanggung jawab dan kurang mandiri (senantiasa meminta bantuan kepada orang lain). Salah satu penelitian Braumbrind (Ambron, 1981) menemukan bahwa anak yang orang tuanya memberikan pengasuhan atau perawatan yang penuh kehangatan dan pemahaman serta memberikan arahan atau tuntunan (pemberian tugas sesuai dengan umurnya), maka anak akan memiliki rasa percaya diri (self-confidence), bersikap ramah, mempunyai tujuan yang jelas dan mampu mengontrol (mengendalikan) diri. Sementara anak yang di kembangkan dalam keluarga yang memperturutkan semua keinginan anak dan bersikap persimif, cenderung mengembangkan pribadi anak yang kurang memiliki arah hidup yang jelas dan kurang percaya diri.b. Initiative vs GuiltErik erikson mengemukakan suatu teori bahwa anak prasekolah mengalami suatu krisis perkembangan, karena mereka menjadi kurang dependen dan mengalami konfliks antara “Initiative dan Guilt”. Anak berkembang, baik secara fisik maupun kemampuan intelektual serta berkembangnya rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Mereka menjadi lebih mampu mengontrol lingkungan fisik sebagaimana ia mampu mengotrol tubuhnya. Anak mulai memahami bahwa orang lain memiliki perbedaan dengan dirinya, baik menyangkut persepsi maupun motivasi (keinginan) dan mereka menyenangi kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu.Perkembangan ini semua mendorong lahirnya apa yang disebut Erikson dengan initiative (inisiatif). Pada tahap ini, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Yang berbahaya pada tahap ini, adalah tidak tersalurkannya energi yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka memenuhi keinginannya), karena mengalami hambatan atau kegagalan, sehingga anak mengalami guilt (rasa bersalah). Perasaan bersalah ini berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, dia bisa menjadi nakal atau pendiam (kurang bergairah).Faktor eksternal yang mungkin menghambat perkembangan inisiatif anak, diantaranya :(1) tuntutan kepada anak di luar kemampuannya,(2) sikap keras orang tua/guru dalam memperlakukan anak,(3) terlalu banyak larangan dan(4) anak kurang mendapat dorongan atau peluang untuk berani mengungkapkan perasaannya, pendapatnya atau keinginannya.8. PERKEMBANGAN MORALPada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya) anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik/boleh/diterima/disetujui atau buruk/tidak boleh/ditolak/tidak disetujui. Berdasarkan pemahamannya itu, maka pada masa ini anak harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku (seperti, mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur dan membaca basmalah sebelum makan).Pada saat mengenalkan konsep-konsep baik-buruk, benar-salah, atau menanamkan disiplin pada anak, orang tua atau guru hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya. Seperti:(1) mengapa menggosok gigi sebelum tidur itu baik,(2) mengapa sebelum makan harus memcuci tangan; atau(3) mengapa tidak boleh membuang sampah sembarangan.Penanaman disiplin dengan disertai alasannya ini, diharapkan akan mengembangkan self-control atau self-discipline (kemampuan mengendalikan diri, atau mendisplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri) pada anak. Apabila penanaman disiplin ini tidak diiringi penjelasan tentang alasannya, atau bersifat doktriner, biasanya akan melahirkan sikap disiplin buta, apalagi jika disertai dengan perlakuan yang kasar.Pada usia pra sekolah berkembang kesadaran sosial anak, yang meliputi sikap empati, “generosity” (murah hati) atau sikap “altruism” yaitu kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Sikap ini merupakan lawan dari egosentris atau “selfishness” (mementingkan diri sendiri).Hasil pengamatan terhadap anak usia pra sekolah, membuktikan bahwa mereka tidak hanya menyadari bahwa orang lain memiliki perasaan, tetapi juga mereka aktif mencoba untuk memahami perasaan-perasaan orang laintersebut. Contohnya, ada seorang anak berusia 2,5 tahun memberikan boneka terhadap anak lain yang sedang menangis. Ini menunjukan pemahaman anak, tidak hanya berkaitan dengan kasih sayang dan pemeliharaan yang mereka terima, tetapi juga berkaitan dengan pola atau gaya kedisiplinan orang tuanya (Ambron, 1981 : 340-341).Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak pra sekolah ini, sebaiknya orang tua atau guru-guru TK, melakukan upaya-upaya berikut.a. Memberikan contoh atau teladan yang baik, dalam berperilaku atau bertutur kata.b. Menanakan kedisiplinan kepada anak, dalam berbagai aspek kehidupan, seperti memelihara kebersihan atau kesehatan dan tata krama atau berbudi pekerti luhur.c. Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik melalui pemberian informasi atau melalui cerita seperti tentang : riwayat orang-orang yang baik (para nabi dan pahlawan) dunia bintang yang mengisahkan tentang nilai kejujuran, kedermawanan, kesetiakawanan atau kerajinan.9. PERKEMBANGAN KESADARAN BERAGAMAKesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:a. Sikap keagamaannya bersifat reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya.b. Pandangan ketuhanannya bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan).c. Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.d. Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat egosentrik (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya)(Abin Syamsuddin Makmun, 1996)Pengetahuan anak tentang agama terus berkembang berkat :(1) mendengarkan ucapan-ucapan orang tua,(2) melihat sikap perilaku orang tua dalam mengamalkan ibadah; dan(3) pengalaman dan meniru ucapan atau perbuatan orang tuanya.Sesuai dengan perkembangan intelektualnya (berpikirnya) yang terungkap dalam kemampuan berbahasa, yaitu sudah dapat membentuk kalimat, mengajukan pertanyaan dengan kata-kata: apa, siapa, dimana, dari mana dan kemana: maka pada usia ini kepada anak sudah dapat diajarkan syahadat, bacaan dan gerakan solat, doa-doa dan Al Quran.Mengajarkan salat pada usia ini dalam rangka memenuhi tuntunan Rasulullah, bahwa orang tua harus menyuruh anaknya salat pada usia tujuh tahun, “muruu auladakum bisholaat sab’u siniin”(suruhlah anak-anakmu salat pada usia 7 tahun).Dengan demikian, mengajarkan bacaan dan gerakan salat pada usia ini adalah dalam rangka mempersiapkan dia untuk dapat melaksanakan salat pada usia tujuh tahun tersebut.Adapun doa-doa yang diajarkan :(1) doa sebelum makan dan sesudahnya,(2) doa berangkat dari rumah,(3) doa tidur,(4) doa untuk orang tua,(5) doa keselamatan/kebahagiaan di dunia dan di akherat.Di samping mengajarkan hal-hal diatas, kepada anak pun diajarkan atau dilatihkan tentang kebiasaan-kebiasaan melaksanakan akhlakul karimah, seperti (1) mengucapkan salam;(2) membacakan basmalah pada saat akan mengerjakan sesuatu;(3) membacakan hamdalah pada saat mendapatkan kenikmatan dan setelah mengerjakan sesuatu;(4) menghormati orang lain;(5) memberi shodaqoh;(6) memelihara kebersihan (kesehatan) baik dari diri sendiri maupun lingkungan (seperti mandi, menggosok gigi, dan membuang sampah pada tempatnya).2.5.2 FASE SEKOLAH ANAK1. PERKEMBANGAN INTELEKTUALKemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadai dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan,seperti membaca, menulis dan berhitung. Disamping itu, kepada anak diberikan juga pengetahuan-peangetahun tentang manusia, hewan, lingkungan alam sekitar dan sebagainya. Untuk mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, atau penilaiannya terhadapa berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi dilingkungannya. Misalnya, yang berkaitan dengan materi pelajaran, tata tertib sekolah, pergaulan yang baik dengan teman sebaya atau orang lain dan sebagainya.2. PERKEMBANGAN BAHASATerdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut.a. Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.b. Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada usia anak memasuki sekolah dasar, sudah sampai pada tingkat :(1) dapat membuat kalimat yang lebih sempurna,(2) dapat membuat kalimat majemuk,(3) dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.3. PERKEMBANGAN SOSIALMaksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Pada usisa ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosio sentries (mau memerhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), dia mera tdak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.Berkat perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.4. PERKEMBANGAN EMOSIEmosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula prilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tau akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktifitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan disiplin dalam belajar.Sebaliknya, apabila yang menyertai prose situ emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiaanya untuk belajar sehingga kemungkinan besar ia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Mengingat hal tersebut, maka guru seyogyanya mempunyai kepedulian untuk memciptakan situasi belajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif.5. PERKEMBANGAN MORALAnak mulai mengenal konsep moral (mengenal benar salah atau baik-buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini (pra sekolah) merupakan hal yang seharusnya, karena informasi yang diterima anak mengenai benar salah atau baik buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya dikemudian hari.Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar salah atau baik buruk. Misalnya, dia memandang atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan suatu yang benar atau baik.6. PERKEMBANGAN PENGHAYATAN KEAGAMAANPada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.a. Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian.b. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indicator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya.c. Penghayatan secar rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusannya (Abin Syamsuddin M, 1996).7. PERKEMBANGAN MOTORIKSeiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan mtorik ini, seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik (komputer), berenang, main bola dan atletik.2.6 Anak-Anak Sekarang Senang Dengan InternetInternet siapa yang tak kenal dengan internet hampir semua orang membutuhkannya. Apalagi untuk kalangan anak muda kata-kata itu sangat akrab ditelinga mereka. Banyak diantara mereka menggunakannya untuk kegiatan positif. Seperti menggunakan internet untuk mengerjakan tugas, mencari lagu-lagu, dan untuk memperbanyak teman didunia maya.Tapi selain itu internet juga membawa dampak yang buruk bagi anak karena dengan internet anak-anak menjadi malas belajar. Seperti yang penulis dengar sendiri dari pernyataan narasumber, bahwa jika mereka sudah main game di internet mereka jadi malas untuk belajar. Dan akibatnya sudah bisa ditebak prestasi mereka disekolah pasti akan turun.Lalu bagaimana dengan orang tuanya apa tidak marah, mereka menjawab ”ya marah tapi kan abis itu selesai”. Begitu gampang mereka menjawab ”ya”, mungkin itu disebabkan karena mereka sudah kebal dengan omelan dari orang tuanya. Sehingga mereka sudah tidak takut lagi.Hal itu terjadi karena anak-anak yang memang orang tuanya sibuk, sebagian dari mereka dirumah sendiri karena kedua orang tuanya bekerja dan mungkin juga orang tuanya sudah lelah memberitahu anaknya jadi mereka hanya membiarkannya saja.Selain dari yang tadi diungkapkan, ada satu pernyataan lagi yang dikeluarkan oleh salah satu anak yang membuat sangat terkejut, ternyata melalui internet anak-anak tersebut dapat melihat tayangan yang berbau pornografi. Dan inilah yang juga menjadi salah satu alasan mengapa internet banyak diminati oleh anak muda.Berdasarkan tiga dari lima anak telah menonton BF atau Bokep yaitu suatu tayangan orang dewasa yang tidak sepantasnya ditonton oleh anak-anak. Dan akibat yang ditimbulkan, apalagi selain perusakan moral anak.Hal ini sungguh disayangkan karena sesuatu yang berbau seks akan disimpan dan melekat pada otak kanan anak. Sehingga gambaran-gambaran itu akan selalu diingat oleh anak. Akibatnya anak menj adi malas belajar dan lebihDari hal tersebut perlulah sikap waspada dari orang tuanya dan orang tua perlu menambahkan perhatian pada anaknya, agar anaknya kelak tidak hancur dengan kenakalanya yang diakibatkan dari kelalaiannya sebagai orang tua.BAB IIIPENUTUP3.1 KesimpulanSeorang ahli psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa kurun usia pra sekolah disebut sebagai masa keemasan (the golden age). Karenanya di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan berbagai karakteristik. Dalam upaya mendidik atau membimbing anak agar mereka dapat mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin maka bagi para pendidik, orangtua, atau siapa saja yang berkepentingan dalam pendidikan anak, perlu dianjurkan untuk memahami perkembangan anak. Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Ancaman internet terutama situs-situs pornografi terhadap anak yang demikian besar bila tidak dicermati akan dapat merusak moral anak Indonesia. Mungkin akan banyak anak Indonesia akan terbius oleh pesona pornografi sehingga perkembangan mental dan moralnya akan pasti mengganggu kualitas hidup dan prestasinya. Bila ini terjadi efek domino dan mata rantai yang diakibatkan oleh paparan pornografi terhadap anak akan menimbulkan persoalan bangsa yang lebih besar lagi. Adapun berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak yaitu:a. Faktor-faktor sebelum lahirb. Faktor pada waktu lahirc. Faktor sesudah lahird. Faktor psikologis3.2 SaranOleh karena itu orangtua juga harus bisa menjadi sahabat yang baik bagi anaknya, karena dampak negatif dari internet berupa pornografi tidak bisa dengan mudah dicegah oleh orang tua sebab itu juga akibat dari pergaulan anak. Dan tidak mungkin juga orang tua membatasi dengan siapa anaknya berteman karena itu akan mengganggu kemerdekaan anak. Tapi diharapkan dengan memberikan pemahaman pada anak dapat meminimalisir dampak negatif dari internet, karena anak dapat membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang tidak baik untuk dirinya. Jadi anak akan tumbuh sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya dan tidak ada kata penyesalan yang terlambat dari orang tua. Kami menyadari akan kekurangan dalam makalah ini, maka pembaca dapat menggali kembali sumber-sumber lainnya, untuk menyempurnakannya. Jadi kami harapkan kritik yang membangun dari anda sekalian, untuk kami lebih bisa baik dan sempurna lagi dalam pembuatan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembacanyaDAFTAR PUSTAKANurhayati Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Yusuf Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak. Bandung : PT REMAJA ROSDA KARYA“Seorang Cewek Itu Harus Cerdas Karena Dunia Itu Terlalu Keras Jika Hanya Mengandalkan Paras”

Komentar
Posting Komentar